Sistem Akademik Ekstrakurikuler Informatika · SDN Ujung XIII

SIAKAD Informatika

Saya mengajar informatika di sekolah dasar. Sistem akademik yang saya gunakan, saya bangun sendiri.

Problem

Sejak April 2026 saya mengajar komputer untuk kelas 4, 5, dan 6 di SDN Ujung XIII/38. Sebelum tahun ajaran dimulai, saya menyusun Program Kerja: kurikulum lengkap tiga tingkat kelas, dua semester, beserta rubrik penilaiannya. Enam jam kerja, sekali setahun. Hasilnya satu dokumen yang harus tetap hidup dan mudah dijangkau selama satu tahun ajaran penuh. Lalu setiap pertemuan menambah lapisan baru: apa yang diajarkan, sampai mana, siapa yang tertinggal, berapa nilainya. Awalnya saya kira masalah saya adalah waktu. Ternyata bukan. Menyusun kurikulum memang lama, tapi itu pekerjaan berpikir — dan pekerjaan berpikir memang butuh waktu. Merekap nilai malah cepat, tidak sampai lima menit. Masalahnya baru terasa setelah dokumen itu jadi:

  • Dokumen tercetak harus dibawa ke mana-mana
  • Melacak "materi Scratch kelas 5 sudah sampai blok apa?" berarti membuka berkas satu per satu
  • Setiap revisi melahirkan salinan baru, dan setiap salinan baru melahirkan keraguan mana yang paling mutakhir
  • Rencana setahun yang tersimpan sebagai berkas statis akan segera tertinggal dari kenyataan di kelas

Yang saya butuhkan bukan penghemat waktu, melainkan satu tempat yang bisa saya buka dari mana saja — dan yang selalu benar.

User

Pengguna utama: saya sendiri. Guru yang mengampu tiga tingkat kelas dengan kurikulum berbeda di tiap tingkat. Pengguna kedua yang tidak saya rencanakan: murid-murid saya. Saya mulai membuka halaman materi di depan kelas sebagai cuplikan — "minggu depan kita belajar ini". Fungsinya berubah: dari alat administrasi pribadi menjadi alat mengajar. Versi sekarang memberi murid jalur tersendiri melalui Portal Murid, tempat mereka memilih kelas dan rombel tanpa memperoleh akses editor. Perubahan itu memaksa saya memperbaiki hal yang tadinya tidak saya pedulikan. Kalau sebuah halaman ditampilkan ke anak berusia sepuluh tahun, halaman itu harus terbaca — bukan sekadar berfungsi. Ukuran huruf, kontras, dan kerapian mendadak jadi penting, bukan karena teori desain, tapi karena ada tiga puluh anak yang menyipitkan mata ke layar. Belum ada guru lain yang memakainya sebagai editor. Saya menuliskannya apa adanya: ini belum menjadi sistem institusional; satu guru yang benar-benar memakainya tiap minggu, ditambah murid yang mengakses portal kelasnya, lebih bernilai daripada adopsi luas yang diklaim tanpa bukti.

Solution

Tiga pilihan: bertahan manual, memakai aplikasi manajemen sekolah yang ada, atau membangun sendiri. Aplikasi sekolah yang tersedia dirancang untuk administrasi institusi — absensi, SPP, rapor. Untuk kebutuhan saya itu berlebihan, dan justru menambah pekerjaan karena harus mengisi banyak kolom yang tidak relevan. Saya membangun sendiri, dengan satu batasan keras: hanya menyelesaikan masalah yang benar-benar saya alami. Versi pertama berfokus pada kurikulum dan jurnal pertemuan. Setelah dipakai di kelas, cakupannya tumbuh berdasarkan kebutuhan nyata: data siswa, daftar hadir dan nilai, jadwal pelajaran, materi pokok, serta portal murid. Tetap tidak ada SPP, rapor sekolah, atau dasbor kepala sekolah—ini sistem akademik ekstrakurikuler informatika, bukan SIAKAD seluruh sekolah. Batasan itu yang membuatnya selesai — dan yang membuatnya benar-benar saya pakai, bukan menumpuk sebagai proyek mangkrak.

Key Features

  • Kurikulum per tingkat kelas — Program Kerja tiga tingkat dalam bentuk hidup, bukan berkas statis. Kelas 4 Literasi Digital & Fondasi Logika, kelas 5 Pemrograman Visual, kelas 6 Logika Pemrograman Teks & Web.
  • Jurnal per pertemuan — catatan tiap tatap muka yang bisa ditelusuri, bukan diingat-ingat.
  • Daftar hadir & nilai per pertemuan — status kehadiran dan nilai dicatat pada konteks kelas, rombel, dan nomor pertemuan yang sama.
  • Rekap nilai berbasis rubrik — mengikuti rubrik lima kriteria yang saya rancang, dengan perhitungan (Total Skor / 20) × 100.
  • Manajemen jadwal — satu sumber kebenaran, diperbarui hanya saat kebijakan sekolah berubah.
  • Ekspor ke Excel — bukan fitur teknis, melainkan keputusan diplomatik. Sekolah tetap butuh berkas Excel untuk pelaporan, dan aplikasi saya tidak boleh memaksa institusi mengubah caranya bekerja. Aplikasi yang menuntut dunia menyesuaikan diri akan ditolak dunia.
  • Portal Murid + area editor terlindungi — murid memilih kelas dan rombel melalui portalnya sendiri; pengelolaan data siswa dan catatan pertemuan tetap membutuhkan akses guru.

Challenge — Membangun sesuatu yang tidak ada contohnya

Hambatan terbesar bukan hal teknis. Hambatannya: tidak ada acuan. Untuk hampir semua jenis aplikasi ada contoh yang bisa dipelajari — pola datanya, alurnya, tata letaknya. Untuk "aplikasi jurnal mengajar guru komputer SD", tidak ada. Tidak ada templat, tidak ada studi kasus, tidak ada pola mapan untuk ditiru. Saya membangun versi pertama berdasarkan asumsi saya sendiri tentang apa yang saya butuhkan. Asumsi itu meleset. Aplikasinya berfungsi, tapi begitu dipakai beberapa minggu, saya terus menemukan hal yang seharusnya ada tapi tidak terpikirkan saat merancang. Yang menyelesaikannya bukan kepintaran teknis, melainkan berhenti menebak:

  • Meneliti bagaimana masalah serupa diselesaikan di domain lain
  • Memakai AI sebagai lawan diskusi untuk menguji rancangan
  • Bertanya langsung kepada guru-guru lain tentang cara mereka mengerjakan hal yang sama

Poin ketiga yang paling mengubah keadaan. Guru lain punya kebiasaan yang tidak pernah saya pikirkan, karena mereka sudah bertahun-tahun menemukan jalan pintasnya sendiri. Beberapa keputusan desain terbaik di aplikasi ini lahir dari percakapan, bukan dari dokumentasi. Yang berubah dari cara saya bekerja: saya berhenti menganggap "saya penggunanya, jadi saya pasti tahu yang dibutuhkan". Menjadi pengguna memberi saya masalahnya — bukan otomatis solusinya. Sekarang saya bertanya dulu sebelum membangun, bahkan untuk aplikasi yang hanya saya sendiri yang pakai.

Impact — Sebelum & sesudah

⚠️ Catatan kejujuran. Aku sengaja tidak menulis "hemat X jam". Kamu menyusun kurikulum dengan bantuan AI, dan SIAKAD Informatika tidak menulis kurikulum untukmu — ia menyimpan, menata, dan menjaganya tetap hidup. Klaim penghematan waktu akan runtuh dalam satu pertanyaan susulan. Klaim di bawah ini tidak akan.

Akses kurikulumSebelum: Dokumen tercetak, dibawa ke mana-mana · Sesudah: Dibuka dari perangkat apa pun, kapan pun
Melacak progres materiSebelum: Buka berkas satu per satu · Sesudah: Riwayat jurnal per kelas, langsung terlihat
Merevisi rencanaSebelum: Salinan baru tiap revisi, ragu mana yang mutakhir · Sesudah: Satu sumber, selalu versi terbaru
Rencana vs kenyataan kelasSebelum: Dokumen statis yang cepat tertinggal · Sesudah: Dokumen hidup yang ikut bergerak
Menunjukkan materi ke muridSebelum: Tidak terpikirkan · Sesudah: Portal Murid dan halaman materi dibuka langsung di kelas

Pernyataan dampak yang tidak butuh satu angka pun:

Aplikasi ini dipakai secara nyata, tiap minggu, untuk mengajar tiga tingkat kelas di sekolah dasar. Bukan demo, bukan proyek latihan. Penggunanya adalah orang yang langsung tahu kalau ada yang rusak — karena dia sedang berdiri di depan kelas saat itu terjadi.

Tech Choices

Next.js 16 + React 19Portal murid harus cepat dibuka dari HP di jaringan sekolah; area editor harus interaktif. Satu framework untuk keduanya
Supabase (Postgres + Auth)Data akademik relasional secara alami: kelas → rombel → pertemuan → kehadiran dan nilai. Auth melindungi akses editor tanpa membebani portal murid dengan kewenangan yang sama
TypeScriptSalah tipe di data nilai berarti angka siswa yang salah. Ditangkap sebelum sampai ke layar
Tailwind CSS v4Solo, waktu terbatas. Berkas CSS terpisah berarti dua tempat untuk satu perubahan
xlsxKeputusan produk, bukan teknis — sekolah butuh Excel
Framer MotionHalaman ini ditampilkan ke anak-anak; transisi halus membantu mereka mengikuti perpindahan konteks
VercelNol konfigurasi, gratis, deploy otomatis dari git

Repositori ditutup untuk umum — dan itu disengaja:

Repositori ini saya privatkan karena skema basis datanya memuat struktur data akademik siswa. Untuk sesuatu yang menyimpan nilai anak-anak, keterbukaan kode bukan prioritas di atas privasi mereka. Kodenya bisa saya tunjukkan langsung dalam sesi wawancara.

Ini bukan alasan untuk menutupi kekurangan. Ini konsisten dengan positioning-mu — orang yang menerbitkan riset keamanan seharusnya memang berpikir dua kali sebelum membuka data siswa ke publik. Perekrut yang jeli akan menangkap ini sebagai nilai tambah, bukan kekurangan.

Screenshot — Placeholder

1 · Halaman depan dari HPDibuka dari HP di jaringan sekolah
2 · Daftar kurikulum kelas 4Program Kerja sebagai dokumen hidup
3 · Formulir jurnal pertemuanAlur pencatatan setelah mengajar
4 · Daftar hadir & nilaiKehadiran dan evaluasi dalam konteks pertemuan yang sama
5 · Portal MuridAkses kelas dan rombel tanpa membuka area editor
6 · Hasil ekspor ExcelMenyesuaikan format yang sekolah butuhkan
7 · PDF Program Kerja — sampul + halaman rubrikAset nyata, nol data siswa, aman dipajang & diunduh
8 · Halaman materi ditampilkan di kelas🔥 Foto layar/proyektor di depan murid. Gambar terkuat di seluruh portofolio